Pagi hari, pukul 6.30, kami berjalan-jalan di taman Cong Vien Tao Dan. Ternyata banyak orang yang berolahraga, padahal saat itu adalah hari Senin Pagi. Ternyata, info dari pemilik hotel, penduduk HCMC punya kebiasaan bangun pagi pukul 4.30, olahraga, lalu pulang untuk bersiap-siap berangkat kerja. Pantas saja pada langsing-langsing. :)
Hari terakhir, kami mengikuti city tour dengan rute war museum, coffe shop, kuil di China town, Binh Thanh Market, Reunification (Independence) Palace, Notre Dame Cathedral & Post Office. Tiga tempat yang terakhir berada pada lokasi yang berdekatan.
@ the palace
Post Office
Notre Dame
Binh Thanh Market adalah pasar penduduk lokal. Berbeda dengan Ben Than Market yang lebih sering dikunjungi turis. Di Binh Thanh Market turis bisa membeli barang-barang lokal dengan harga murah. Namun banyak juga barang yang tidak dijual eceran. Jadi, anda harus tahu beda pedagang eceran & grosir, karena biasanya pedagang grosir tidak mau menjual eceran. Masalah bahasa juga menjadi kendala disini. Sebagian besar tidak bisa berbahasa Inggris atau Melayu. Jadi, gunakanlah kalkulator!
Di pasar ini, kami membeli masker & kaos kaki. Masker untuk pengendara motor kami beli seharga 34.000 VND per 10 pcs. Tadi nya sempat bingung juga, kok murah amat ya??? (Sooook banget!). Apalagi karena ngga bisa nanya-nanya ke pedagangnya. Hi hi hi. Saat kami menunjukkan minat mau beli, eh pedagangnya cengar-cengir, nyari temennya yang, Alhamdulillah, bisa bahasa Inggris.
Di kios lain kami beli teh dan kopi Vietnam. Disini asli, transaksinya pake kalkulator. :)
Tempat-tempat lain yang kami kunjungi setelah Binh Thanh Market adalah tempat bersejarah yang masih mendapatkan perawatan yang baik. Kalo di Jakart mungkin seperti gedung-gedung di seputar Jalan Merdeka.
Setelah kunjungan terakhir ke Post Office, kami berpisah dari rombongan tour. Dari sana kami menuju Dong Du Street untuk makan siang di resto Halal @ Saigon dan sholat di Masjid Jalan Dong Du. Ini adalah satu-satunya masjid yang berhasil kami kunjungi selama di HCMC (menurut informasi, di kota ini terdapat 5 buah masjid). Masjid ini cukup bersih, namun nampak kurang perawatan. Berbeda dengan masjid-masjid yang kami kunjungi di Singapura, walaupun di kedua negara ini Islam adalah minoritas, namun masjid di Singapura nampak lebih rapi dan terawat.
Setelah menunaikan sholat, kami naik taksi menuju bandara untuk kembali pulang ke Indonesia.
Jumat, 01 Juli 2011
Budget ke Ho Chi Minh City 2N3D
1. Tiket Pesawat Air Asia = Rp. 3.796.000
Untuk 2 orang sudah termasuk pick a seat n meal.
Kalau mau hunting lebih sabar, tiket ini masih bisa lebih murah lagi. He he he
2. Airport tax di Soetta = Rp. 150.000 per orang
Airport tax di HCMC nampaknya sudah include dalam tiket.
3. Tulips Hotel = Rp. 211.000 per malam
4. Makan Malam di VN Halal = 11,6 USD
Menu : Mie mamak, Nasgor kampung, teh tarik, bandung Chin cau
5. Tour Cu Chi Tunnel = 8 USD per orang
Tiket Cu Chi Tunnel = 80.000 VND per orang
6. City Tour = 13 USD per orang
7. Tiket war museum = 15.000 VND per orang
8. Tiket Reunification Palace = 15.000 VND per orang (kalau tidak salah)
9. Makan siang di Lion City Resto = 344.190 VND
Menu : Nasi + chicken curry, vegetable soup, coconut, salted lemon juice & mango dry
10. Makan Malam di Lion City Resto = lupa....
Menu : kopi vietnam dingin, ginger tea, tom yam, singapore fried rice, spring roll
11. Makan siang di Halal @ Ho Chi Minh = 304.500 VND
Menu : Ly xao toi, Pho beef, com chen (nasi putih), cam vat (orange juice), ep buoi (pamelo fruit juice), goi cuon ton (shrimp sring roll), tat xi muoi (calamansi juice) plus extra sugar cane & puding.
12. Souvenir dompet = 20.000 VND per piece
13. Oleh-oleh Teh & kopi = 35.000 - 50.000 VND per dus
14. Masker pengendara motor = 34.000 VND per 10 pieces
15. Kaos kaki panjang = 56.000 VND per 10 pieces
Total pengeluaran kami berdua selama 3 hari 2 malam di HCMC (tidak termasuk tiket & hotel yang sudah dibayar online) tidak lebih dari 200 USD.
Untuk 2 orang sudah termasuk pick a seat n meal.
Kalau mau hunting lebih sabar, tiket ini masih bisa lebih murah lagi. He he he
2. Airport tax di Soetta = Rp. 150.000 per orang
Airport tax di HCMC nampaknya sudah include dalam tiket.
3. Tulips Hotel = Rp. 211.000 per malam
4. Makan Malam di VN Halal = 11,6 USD
Menu : Mie mamak, Nasgor kampung, teh tarik, bandung Chin cau
5. Tour Cu Chi Tunnel = 8 USD per orang
Tiket Cu Chi Tunnel = 80.000 VND per orang
6. City Tour = 13 USD per orang
7. Tiket war museum = 15.000 VND per orang
8. Tiket Reunification Palace = 15.000 VND per orang (kalau tidak salah)
9. Makan siang di Lion City Resto = 344.190 VND
Menu : Nasi + chicken curry, vegetable soup, coconut, salted lemon juice & mango dry
10. Makan Malam di Lion City Resto = lupa....
Menu : kopi vietnam dingin, ginger tea, tom yam, singapore fried rice, spring roll
11. Makan siang di Halal @ Ho Chi Minh = 304.500 VND
Menu : Ly xao toi, Pho beef, com chen (nasi putih), cam vat (orange juice), ep buoi (pamelo fruit juice), goi cuon ton (shrimp sring roll), tat xi muoi (calamansi juice) plus extra sugar cane & puding.
12. Souvenir dompet = 20.000 VND per piece
13. Oleh-oleh Teh & kopi = 35.000 - 50.000 VND per dus
14. Masker pengendara motor = 34.000 VND per 10 pieces
15. Kaos kaki panjang = 56.000 VND per 10 pieces
Total pengeluaran kami berdua selama 3 hari 2 malam di HCMC (tidak termasuk tiket & hotel yang sudah dibayar online) tidak lebih dari 200 USD.
Perjalanan ke Ho Chi Minh City (Day 2)
Ada beberapa tour yang ditawarkan hotel tempat kami menginap. Menurut kami harganya cukup terjangkau, jadi pada malam sebelumnya kami memesan 2 tour untuk 2 hari kedepan. Pertama Cu Chi Tunnel half day tour seharga 8 USD per orang hanya untuk bus dan guide saja (tiket tidak termasuk). Kedua City tour full day seharga 13 USD perorang untuk bus, guide & light lunch (seharga 20.000 VND).
Pada kunjungan ke Singapura dan Kuala Lumpur, saya selalu mendesain sendiri rute yang akan saya kunjungi dengan menggunakan transportasi umum. Tapi mengingat di HCMC transportasi umumnya kurang mendukung dan penduduknya jarang yang bisa bahasa Inggris (antisipasi bertanya jika tersesat), maka saya memutuskan untuk ikut tour. Sebenarnya kami bisa naik taksi, tapi kalo dihitung-hitung kayanya mendingan ikut tour. Turis asing bisa juga sewa sepeda motor. Tapi kalo melihat traffic di HCMC, kayanya ngga deh. Fuihhh.
Hari kedua kami mengikuti tour ke Cu Chi Tunnel (baca : ku ci tannel). Jadwal berangkatnya pukul 7.30. Kami dijemput beberapa menit lebih awal. Lalu seperti mobil jemputan sekolah, bus menjemput peserta tour yang lain dari satu hotel ke hotel yang lain. Setelah menjemput para peserta, bus transit di taman depan jalan pham ngu lao (pusat backpacker). Selanjutnya kami pindah ke bus yang membawa kami ke Cu Chi. Perjalanannya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sebelum ke Cu Chi kami diajak mampir ke tempat pembuatan kerajinan kulit telur yang pekerjanya sebagian besar adalah orang - orang cacat (akibat perang vietnam). Harga souvenir disini mahal-mahal, jadi kami hanya jadi penonton saja. :(
Di Cu chi kami menonton sejarah perang Vietnam. Cu chi tunnel adalah terowongan yang dibuat oleh gerilyawan vietkong saat melawan tentara US. Terowongan itu dalamnya bisa mencapai 12 m dengan panjang total 200 km. Wow. Terowongan itu begitu sempit, tapi memang cocok untuk orang vietnam yang berperawakan kecil dan kurus. Sementara untuk orang US, wah bisa nyangkut kayanya. He he he
Pengalaman yang mengesankan terutama saat mencoba masuk ke dalam salah satu terowongan. Untuk melaluinya kami harus merunduk.
Nah, ini guide kami, Mr Fu.
Malam harinya kami menjelajah Ben Than Market. Pasarnya sendiri sudah tutup kalau malam hari, tapi jalan disekitarnya menjadi pasar kaget, banyak pedagang berjualan di sana. Beberapa pedagang berkata "kaka, beli". :) Setelah berkeliling, kami membeli dompet @ seharga 20.000 VND. Pedagangnya bisa bertransaksi dengan 6 bahasa : Vietnam, Indonesia, Malaysia, English, Jepang & Russia ! Incredible...
Setelah berbelanja, kami mengunjungi taman di sebrang pasar. Butuh keberanian tersendiri untuk menyeberangi jalan dengan banyak kendaraan. Kami mengikuti penduduk lokal yang menyeberang. Alhamdulillah, berhasil dengan sukses. Pengalaman hari sebelumnya, kami menyeberangi jalan menuju hotel, hasilnya, diklaksoni motor! he he he
Padatnya jalan di HCMC.
Pada kunjungan ke Singapura dan Kuala Lumpur, saya selalu mendesain sendiri rute yang akan saya kunjungi dengan menggunakan transportasi umum. Tapi mengingat di HCMC transportasi umumnya kurang mendukung dan penduduknya jarang yang bisa bahasa Inggris (antisipasi bertanya jika tersesat), maka saya memutuskan untuk ikut tour. Sebenarnya kami bisa naik taksi, tapi kalo dihitung-hitung kayanya mendingan ikut tour. Turis asing bisa juga sewa sepeda motor. Tapi kalo melihat traffic di HCMC, kayanya ngga deh. Fuihhh.
Hari kedua kami mengikuti tour ke Cu Chi Tunnel (baca : ku ci tannel). Jadwal berangkatnya pukul 7.30. Kami dijemput beberapa menit lebih awal. Lalu seperti mobil jemputan sekolah, bus menjemput peserta tour yang lain dari satu hotel ke hotel yang lain. Setelah menjemput para peserta, bus transit di taman depan jalan pham ngu lao (pusat backpacker). Selanjutnya kami pindah ke bus yang membawa kami ke Cu Chi. Perjalanannya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sebelum ke Cu Chi kami diajak mampir ke tempat pembuatan kerajinan kulit telur yang pekerjanya sebagian besar adalah orang - orang cacat (akibat perang vietnam). Harga souvenir disini mahal-mahal, jadi kami hanya jadi penonton saja. :(
Di Cu chi kami menonton sejarah perang Vietnam. Cu chi tunnel adalah terowongan yang dibuat oleh gerilyawan vietkong saat melawan tentara US. Terowongan itu dalamnya bisa mencapai 12 m dengan panjang total 200 km. Wow. Terowongan itu begitu sempit, tapi memang cocok untuk orang vietnam yang berperawakan kecil dan kurus. Sementara untuk orang US, wah bisa nyangkut kayanya. He he he
Pengalaman yang mengesankan terutama saat mencoba masuk ke dalam salah satu terowongan. Untuk melaluinya kami harus merunduk.
Nah, ini guide kami, Mr Fu.
Malam harinya kami menjelajah Ben Than Market. Pasarnya sendiri sudah tutup kalau malam hari, tapi jalan disekitarnya menjadi pasar kaget, banyak pedagang berjualan di sana. Beberapa pedagang berkata "kaka, beli". :) Setelah berkeliling, kami membeli dompet @ seharga 20.000 VND. Pedagangnya bisa bertransaksi dengan 6 bahasa : Vietnam, Indonesia, Malaysia, English, Jepang & Russia ! Incredible...
Setelah berbelanja, kami mengunjungi taman di sebrang pasar. Butuh keberanian tersendiri untuk menyeberangi jalan dengan banyak kendaraan. Kami mengikuti penduduk lokal yang menyeberang. Alhamdulillah, berhasil dengan sukses. Pengalaman hari sebelumnya, kami menyeberangi jalan menuju hotel, hasilnya, diklaksoni motor! he he he
Padatnya jalan di HCMC.
Tips Ho Chi Minh City
1. District 1 di Ho Chi Minh City dikenal juga dengan sebutan Saigon
2. Di Vietnam berlaku 2 mata uang, yaitu USD dan VND (Vietnam Dong)
3. Banyak orang Vietnam yang tidak bisa berbahasa Inggris, termasuk sopir taksi, jadi siapkan kata yang dimengerti oleh supir taksi dan siap-siap pake kalkulator kalo mau belanja
4. Kebanyakan barang di HCMC bisa ditawar. Jadi tawarlah, bahkan sampai setengah harga , terutama bila belanja di pasar
5. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan HCMC
6. Hati-hati kalau menyeberang jalan. Jalanan di sana padat dengan motor. Sebaiknya kalau menyeberang ikuti penduduk lokal yang mau nyeberang ya....
2. Di Vietnam berlaku 2 mata uang, yaitu USD dan VND (Vietnam Dong)
3. Banyak orang Vietnam yang tidak bisa berbahasa Inggris, termasuk sopir taksi, jadi siapkan kata yang dimengerti oleh supir taksi dan siap-siap pake kalkulator kalo mau belanja
4. Kebanyakan barang di HCMC bisa ditawar. Jadi tawarlah, bahkan sampai setengah harga , terutama bila belanja di pasar
5. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan HCMC
6. Hati-hati kalau menyeberang jalan. Jalanan di sana padat dengan motor. Sebaiknya kalau menyeberang ikuti penduduk lokal yang mau nyeberang ya....
Perjalanan ke Ho Chi Minh City (Day 1)
Perjalanan kali ini kami mulai dengan kemacetan di ruas tol Jakarta-Cikampek dan dalam kota. Alhamdulillah bisa sampai dengan selamat dan masih punya waktu untuk sholat dan makan siang. Kami mulai mengurus prosedur check in pada pukul 15.00. Berhubung sudah mencetak boarding pass via internet, jadi kami tinggal membayar charge bandara Rp.150.000,- di counter Check in Air Asia. Setelah itu, mengisi lembar imigrasi dan melanjutkan ke antrian imigrasi.Saat masuk ke boarding gate bingung juga, kok sepi amat ya? Tapi tak lama, satu persatu penumpang check ini dan ternyata setelah naik pesawat baru terlihat penumpangnya penuh :-). Saat menunggu di boarding room, saya bertemu dengan David, seorang professor yang menjadi narasumber dalam acara CS Teach, learn & share di @ America. David memberikan saran-sarannya tentang HCMC. Thanks David.
Tiba di bandara Tan Son Nat (kalo ga salah tulis) lebih cepat sepuluh menit dari jadwal. Wow, bandaranya modern, luas dan rapi. Tak ada kartu imigrasi di HCMC. Usai dari conter imigrasi kami melewati custom. Di depan pintu keluar custom, ada beberapa stand taxi. Kami memilih Vinasun (sesuai saran beberapa blog). Biayanya $ 7 fix (jauh dekat). Petugas counter mengatakan, You don't have to pay anymore. Ternyata benar, kami diantar sampai Tulips Hotel dan sopir tidak meminta biaya tambahan, termasuk untuk bayar parkir bandara. Oh, ya rata-rata sopir taxi di HCMC tidak bisa berbahasa Inggris. Termasuk supir yang mengantar kami ke hotel. Ketika saya & suami berkomentar tentang sebuah cafe, sang sopir menyebutkan 'disko' sambil bergaya-gaya ajojing. :-)
Kesan kami terhadap Tulip hotel adalah kecil tapi bersih dan pegawainya ramah. Ada 2 pegawai yang bertugas, namun hanya receptionis saja yang bisa berbahasa Inggris. Kami telah memesan kamar standar dari Agoda, tapi ternyata mereka memberikan kamar deluxe tanpa meminta biaya tambahan. Wow, how lucky we are. Alhamdulillah
Setelah beristirahat sebentar di kamar, kami mencari rumah makan halal di sekitar hotel. Berdasarkan referensi Agoda, ada sebuah resto halal (lion City) di dekat hotel. Tapi berhubung kami belum tau lokasinya, kami mendatangi resto halal yang kartu namanya ada di lobby hotel. VN halal, terletak di jalan Pham Hong Thau, hanya perlu jalan kaki sebentar. Menu Makan Malam kali ini adalah mie mamak & bandung cin chau untuk ku, dan nasi goreng & teh tarik untuk suami. All cost 11,6 USD. Taste good. Dalam perjalanan pulang ke hotel kami melewati jalan yang berbeda. Nah, baru ketemu deh, resto Lion City ternyata memang lebih dekat dengan hotel, letaknya di jalan Truong Dinh.
Hotel di HCMC tidak menyediakan air minum free. Jadi kami beli air minum botolan 500 ml di Circle K seharga 5000 VND ditambah wrigley's double mint seharga 3000 VND. Saat kami mengunjungi HCMC, kurs yang berlaku 1 USD = 8.600 an rupiah. 1 USD = 20.000 an VND.
Tiba di bandara Tan Son Nat (kalo ga salah tulis) lebih cepat sepuluh menit dari jadwal. Wow, bandaranya modern, luas dan rapi. Tak ada kartu imigrasi di HCMC. Usai dari conter imigrasi kami melewati custom. Di depan pintu keluar custom, ada beberapa stand taxi. Kami memilih Vinasun (sesuai saran beberapa blog). Biayanya $ 7 fix (jauh dekat). Petugas counter mengatakan, You don't have to pay anymore. Ternyata benar, kami diantar sampai Tulips Hotel dan sopir tidak meminta biaya tambahan, termasuk untuk bayar parkir bandara. Oh, ya rata-rata sopir taxi di HCMC tidak bisa berbahasa Inggris. Termasuk supir yang mengantar kami ke hotel. Ketika saya & suami berkomentar tentang sebuah cafe, sang sopir menyebutkan 'disko' sambil bergaya-gaya ajojing. :-)
Kesan kami terhadap Tulip hotel adalah kecil tapi bersih dan pegawainya ramah. Ada 2 pegawai yang bertugas, namun hanya receptionis saja yang bisa berbahasa Inggris. Kami telah memesan kamar standar dari Agoda, tapi ternyata mereka memberikan kamar deluxe tanpa meminta biaya tambahan. Wow, how lucky we are. Alhamdulillah
Setelah beristirahat sebentar di kamar, kami mencari rumah makan halal di sekitar hotel. Berdasarkan referensi Agoda, ada sebuah resto halal (lion City) di dekat hotel. Tapi berhubung kami belum tau lokasinya, kami mendatangi resto halal yang kartu namanya ada di lobby hotel. VN halal, terletak di jalan Pham Hong Thau, hanya perlu jalan kaki sebentar. Menu Makan Malam kali ini adalah mie mamak & bandung cin chau untuk ku, dan nasi goreng & teh tarik untuk suami. All cost 11,6 USD. Taste good. Dalam perjalanan pulang ke hotel kami melewati jalan yang berbeda. Nah, baru ketemu deh, resto Lion City ternyata memang lebih dekat dengan hotel, letaknya di jalan Truong Dinh.
Hotel di HCMC tidak menyediakan air minum free. Jadi kami beli air minum botolan 500 ml di Circle K seharga 5000 VND ditambah wrigley's double mint seharga 3000 VND. Saat kami mengunjungi HCMC, kurs yang berlaku 1 USD = 8.600 an rupiah. 1 USD = 20.000 an VND.
Minggu, 13 Juni 2010
Jalan-jalan ke Dunia Fantasi, Ancol
Jum'at 11 Juni 2010. Hari terakhir UAS anak-anak, pasti melegakan. Sebagai hadiah buat anak sholeh yang sudah mau hening belajar selama seminggu, kami pergi ke Dufan. Keinginan untuk mengajak anak-anak pergi ke Dufan sebenarnya sudah terpendam lama, seru pastinya membayangkan anak-anak berteriak kegirangan. Tapi mengingat kebanyakan permainan di Dufan diperuntukan bagi remaja, keinginan itu diredam dulu deh, sampai sekarang. Anak ku yang paling kecil sudah 6 tahun, jadi sudah bisa menikmati beberapa permainan menantang disana.
Kami berangkat pukul 9.30 dari Cikarang (menunggu anak-anak selesai mengerjakan UAS hari terakhir). Ternyata waktu kami sampai disana pukul 10.30, Dufan nya belum buka. Kalau hari Jum'at buka pukul 13.30. Weeh, kecewa, padahal sengaja datang pagi-pagi supaya bisa menjajali semua wahana yang ada. Ah, kalau begitu, putar haluan saja ke Pantai Indah (di belakang hotel Mercure) sambil menunggu waktu sholat jum'at disana. Di lokasi Pantai Indah ada sebuah mushola yang digunakan untuk sholat Jum'at.
Setelah selesai bermain di pantai dan menunaikan ibadah sholat Jum'at kami kembali ke Dufan. Sebagai informasi, sejak bulan Mei 2010, Dufan memberlakukan tiket terusan untuk pengunjung yang memiliki tinggi badan mulai dari 100 cm. Buat anda yang tinggi badannya kurang dari itu, bisa gratis tiket masuk Dufan. Hal ini juga berlaku untuk manula yang sudah memiliki KTP seumur hidup. Tarif tiket masuk Dufan hari Senin - Jumat adalah 120 ribu rupiah, sementara untuk hari Sabtu & Minggu 150 ribu rupiah. Jam operasionalnya untuk hari senin - kamis = pukul 11.00 - 18.00. Hari Jum'at = pukul 13.30 - 20.00. Hari Sabtu & Minggu = pukul 11.00 - 20.00.
Anak-anak begitu excited, mereka berlarian ke arah pintu masuk, dan ingin memegang sendiri entry cardnya. Sesampainya di dalam kami disambut oleh beberapa boneka icon Dufan. Kesempatan ini tak dilewatkan untuk berfoto bersama, klik.

Wahana yang pertama kami temui adalah Komidi Putar, rangga-rangga kalo ngga salah. Dari sana kami menuju bianglala, dari atas terlihat seluruh wahana di Dufan dan Pantai Ancol di sebelah Utara. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Ketika menikmati putaran bianglala, terdengar teriakan histeris dari dua arah wahana : Kora-kora dan Tornado. Anak-anak begitu bersemangat ingin mencobanya, tapi kami peringatkan bahwa itu membuat mual, lagi pula tinggi mereka belum mencukupi. Untuk naik tornado, tinggi minimal adalah 145 cm. Dari ketinggian bianglala, kami juga dapat melihat wahana baru, yaitu Histeria, sayangnya wahana ini baru mulai dioperasikan besoknya, yaitu tanggal 12 Juni.
Kami berangkat pukul 9.30 dari Cikarang (menunggu anak-anak selesai mengerjakan UAS hari terakhir). Ternyata waktu kami sampai disana pukul 10.30, Dufan nya belum buka. Kalau hari Jum'at buka pukul 13.30. Weeh, kecewa, padahal sengaja datang pagi-pagi supaya bisa menjajali semua wahana yang ada. Ah, kalau begitu, putar haluan saja ke Pantai Indah (di belakang hotel Mercure) sambil menunggu waktu sholat jum'at disana. Di lokasi Pantai Indah ada sebuah mushola yang digunakan untuk sholat Jum'at.
Setelah selesai bermain di pantai dan menunaikan ibadah sholat Jum'at kami kembali ke Dufan. Sebagai informasi, sejak bulan Mei 2010, Dufan memberlakukan tiket terusan untuk pengunjung yang memiliki tinggi badan mulai dari 100 cm. Buat anda yang tinggi badannya kurang dari itu, bisa gratis tiket masuk Dufan. Hal ini juga berlaku untuk manula yang sudah memiliki KTP seumur hidup. Tarif tiket masuk Dufan hari Senin - Jumat adalah 120 ribu rupiah, sementara untuk hari Sabtu & Minggu 150 ribu rupiah. Jam operasionalnya untuk hari senin - kamis = pukul 11.00 - 18.00. Hari Jum'at = pukul 13.30 - 20.00. Hari Sabtu & Minggu = pukul 11.00 - 20.00.
Anak-anak begitu excited, mereka berlarian ke arah pintu masuk, dan ingin memegang sendiri entry cardnya. Sesampainya di dalam kami disambut oleh beberapa boneka icon Dufan. Kesempatan ini tak dilewatkan untuk berfoto bersama, klik.

Wahana yang pertama kami temui adalah Komidi Putar, rangga-rangga kalo ngga salah. Dari sana kami menuju bianglala, dari atas terlihat seluruh wahana di Dufan dan Pantai Ancol di sebelah Utara. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Ketika menikmati putaran bianglala, terdengar teriakan histeris dari dua arah wahana : Kora-kora dan Tornado. Anak-anak begitu bersemangat ingin mencobanya, tapi kami peringatkan bahwa itu membuat mual, lagi pula tinggi mereka belum mencukupi. Untuk naik tornado, tinggi minimal adalah 145 cm. Dari ketinggian bianglala, kami juga dapat melihat wahana baru, yaitu Histeria, sayangnya wahana ini baru mulai dioperasikan besoknya, yaitu tanggal 12 Juni.
Jumat, 04 Juni 2010
Wisata ke Cirebon dan Kuningan
Akhir bulan Mei 2010, libur panjang, dari tanggal 28 - 30. Setelah lama keinginan untuk berkunjung ke Cirebon tertunda, akhirnya liburan kali ini bisa juga untuk bertandang kesana. Kalau liburan panjang kaya gini, apalagi pas habis gajian (bagi karyawan swasta, kalo PNS mah pas lagi tongpes), pasti deh, jalur ke luar kota, apalagi daerah tujuan wisata macet total. Makanya, kami berangkat dari Cikarang sejak pagi. Jam 8 pagi start dari gerbang tol Cikarang Timur, jam 12 siang sudah sampai di gerbang tol Ciperna, Cirebon.
Ceritanya mau wisata hemat nih, jadi kami menginap di mess BKKBN di samping RS Gunung Jati. Biasanya kalau mau nginep di mess kaya gitu, perlu nanya dulu, mess nya serem ngga? Takut kalau lagi tidur sendirian, eh malamnya ada yang nemenin, he he he. Alhamdulillah, mess nya cukup rapi dan bersih. Cukup nyamanlah untuk menginap sehari.
Dari rumah kami sudah membuat list kunjungan ke beberapa keraton dan beberapa tempat wisata serta tidak lupa list untuk mencicipi beberapa makanan khas Cirebon, seperti Nasi Jamblang, nasi Lengko dan empal gentong. Lokasi tempat makan favorit sudah kami browsing dari blog-blog lain. Tapi, tidak semua tempat bisa dikunjungi. Nasi Jamblang Mang Doel yang di sebrang Grage Mall sudah tutup waktu kami kesana malam hari. Empal Gentong Mang Darma yang katanya ada di sebrang Grage Mall ternyata sudah pindah ke lokasi lain. Kecewa.....
Hari Pertama
Sebelum mengisi perut, kami menunaikan ibadah sholat Maghrib dulu, keliling-keliling sambil nyari masjid, eh ketemu masjid raya, yang berada pada jalur jalan di belakang Grage Mall. Subhanallah, pemandangan masjid yang indah dan megah di malam hari. Berhubung ga punya kamera XLR, cukup puas berfoto dengan pocket kamera kodak ku.

Nasi Lengko
Awalnya saya penasaran, makanan seperti apakah ini? karena saya belum pernah menemuinya di Jakarta dan sekitarnya. Ternyata, ini adalah nasi yang diracik dengan potongan tahu, tempe, mentimun, tauge dan rajangan daun bawang (yang kecil) terakhir di siram kecap. Sederhana memang, tapi rasanya cukup nikmat, apalagi kalau dimakan saat panas dan dalam kondisi lapar. Ada penjual nasi lengko yang terkenal di jalan ....., ah lupa lagi nama jalannya. Kelebihannya adalah karena nasi ini disiram dengan bumbu kacang dan paling enak di makan dengan sate kambing (yang juga dijual disana). Apalagi kalau minumnya pake es krim duren yang ada didepan warung. Hhmmmm syedap....
Nasi jamblang
Ibarat rotan, akar pun jadi, Ngga dapet nasi jamblang mang Doel, nasi jamblang bu Iis pun asyik lah. Lokasi nya dekat juga dengan Grage Mall. Tapi yang ini bukanya pas malam hari, karena kalau siang hari digunakan sebagai bengkel mobil. Nasi nya sederhana aja, tapi lauknya macem-macem, jadi semangat milihnya. Apalagi harganya sangat bersahabat. Untuk makan 2 orang dewasa n 3 anak cuma bayar 27 ribu. Top banget deh.
Hari ke dua
Setelah muter-muter nyobain makanan khas pada malam hari, paginya kami mencicipi kue serabi yang dijual tidak jauh dari mess. Tidak se-variatif di Bandung memang, tapi cukup menarik untuk dicoba. Ada serabi polos, serabi telur, serabi manis, serabi oncom, n yang paling heboh, serabi yang dikasih topping kacang kedele n cabe rawit, huah, pedesssss.

Setelah puas sarapan, jam 8 pagi siap-siap check out dari mess untuk mengunjungi dua keraton di Cirebon. Yang pertama dikunjungi adalah keraton Kacirebonan. Karena kami sampai disana jam 8 pagi, jadi kratonnya masih sepi. Daerah yang bisa dikunjungi wisatawan di Keraton kacirebonan ini tidak terlalu luas. Hanya sebuah pelataran, teras dan bangunan utama kraton. Tapi kondisi kraton ini bersih dan terawat. Berbeda dengan kraton Kasepuhan, yang kami kunjungi setelahnya. Kraton kasepuhan memang lebih luas dari kraton kacirebonan. Tapi halaman nya kurang terawat serta agak kotor. Tiket masuk keraton sekitar 4000 per orang. Kalau mau mengunjungi kraton kasepuhan, anda harus menyiapkan banyak uang seribuan, karena di setiap ruangan (ada 3 ruangan), pengunjung diminta mengisi kotak kebersihan. Walaupun tidak diwajibkan, namun dibeberapa ruangan, penjaganya meminta dengan agak memaksa. Belum lagi untuk membayar guide. Biaya parkir mobil juga lebih mahal dibandingkan tempat lain, 5000 rupiah. Well, pengalaman untuk kunjungan selanjutnya.
Ini pengalaman pertama kami sekeluarga pergi ke cirebon dan kuningan. Jadi untuk mencari tempat-tempat tujuan wisata harus bermodalkan papan petunjuk jalan dan petunjuk dari orang yang baik hati memberi tahu arah jalan.
Setelah wisata keraton, kami melanjutkan perjalanan ke arah Kuningan. Tujuan kali ini adalah Kolam Pemandian Cibulan, Pemandian Air Panas dan Kompleks Musium perjanjian Linggar Jati.
Tempat wisata yang berhasil ditemukan pertama kali berdasarkan petunjuk marka jalan adalah kolam air panas. Namun, karena kami sampai di sana sekitar jam 9 pagi, kunjungannya kami tunda dulu, nunggu cuaca lebih adem. Disana kami tanya arah jalan ke Linggarjati. Marka jalan ke Linggarjati kurang memadai. Jadi wajib tanya ke penduduk.

Museum Perjanjian Linggarjati
Walaupun sempat salah belok, akhirnya sampai juga ke museum Linggarjati. Wisata sejarah yang cukup penting buat anak-anak. Walaupun yang menarik bagi mereka adalah halamannya (yang luas, bersih dan indah). Disini pengunjung tidak dikenai karcis masuk, hanya diminta mengisi buku tamu dan menyumbang biaya kebersihan sukarela.
Kolam Pemandian Cibulan
Ini adalah tempat yang menakjubkan. Didalamnya terdapat dua kolam renang yang berisi ikan-ikan dalam ukuran besar, seukuran ikan-ikan sungai Amazon (yang ada di sea world). Sayangnya foto yang berhasil diambil tidak dapat menggambarkan ukuran yang sebenarnya.

Kolam Pemandian Air panas
Ternyata di sekitar kolam banyak penginapan yang ratenya berkisar mulai 80 ribu per kamar. Tapi,kalau musim liburan begini, sudah dapat dipastikan penuh! Tadinya mau nyoba nginep sehari lagi, di Kuningan. Tapi setelah menyusuri beberapa hotel yang penuh, akhirnya diputuskan untuk menyelesaikan kunjungan pada hari ini n langsung pulang ke Cikarang. Disini terdapat dua pintu masuk. Ada kolam pemandian umum (seperti kolam renang) dan ada kolam pemandian tertutup. Tiket masuknya sekitar 7000an per orang untuk kolam umum.
Kami memilih kolam pemandian umum, karena lebih luas sehingga anak-anak lebih nyaman bermain disana. Di dalam kolam pemandian umum ada beberapa kolam. Kolam air panas dan air dingin (dengan suhu air biasa). Ada juga perosotan naga (apa sih bahasa Indonesia yang bakunya? seluncur gitu?). Tapi kayanya kurang nyaman dipakai, karena dibuat dari adukan semen yang dihaluskan, bukan dari plastik fiber seperti di kolam renang pada umumnya.

Aaaah, hari yang melelahkan. Sangat menyenangkan buat anak-anak. Dalam satu hari mereka berenang dua kali! Akhirnya kami pulang ke Cikarang. Melewati jalan tol Palimanan yang sedang dalam perbaikan, ditambah ada kontainer mogok di jalan. Muacet deh. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 4 jam, jadi agak molor setengah jam.
Ceritanya mau wisata hemat nih, jadi kami menginap di mess BKKBN di samping RS Gunung Jati. Biasanya kalau mau nginep di mess kaya gitu, perlu nanya dulu, mess nya serem ngga? Takut kalau lagi tidur sendirian, eh malamnya ada yang nemenin, he he he. Alhamdulillah, mess nya cukup rapi dan bersih. Cukup nyamanlah untuk menginap sehari.
Dari rumah kami sudah membuat list kunjungan ke beberapa keraton dan beberapa tempat wisata serta tidak lupa list untuk mencicipi beberapa makanan khas Cirebon, seperti Nasi Jamblang, nasi Lengko dan empal gentong. Lokasi tempat makan favorit sudah kami browsing dari blog-blog lain. Tapi, tidak semua tempat bisa dikunjungi. Nasi Jamblang Mang Doel yang di sebrang Grage Mall sudah tutup waktu kami kesana malam hari. Empal Gentong Mang Darma yang katanya ada di sebrang Grage Mall ternyata sudah pindah ke lokasi lain. Kecewa.....
Hari Pertama
Sebelum mengisi perut, kami menunaikan ibadah sholat Maghrib dulu, keliling-keliling sambil nyari masjid, eh ketemu masjid raya, yang berada pada jalur jalan di belakang Grage Mall. Subhanallah, pemandangan masjid yang indah dan megah di malam hari. Berhubung ga punya kamera XLR, cukup puas berfoto dengan pocket kamera kodak ku.

Nasi Lengko
Awalnya saya penasaran, makanan seperti apakah ini? karena saya belum pernah menemuinya di Jakarta dan sekitarnya. Ternyata, ini adalah nasi yang diracik dengan potongan tahu, tempe, mentimun, tauge dan rajangan daun bawang (yang kecil) terakhir di siram kecap. Sederhana memang, tapi rasanya cukup nikmat, apalagi kalau dimakan saat panas dan dalam kondisi lapar. Ada penjual nasi lengko yang terkenal di jalan ....., ah lupa lagi nama jalannya. Kelebihannya adalah karena nasi ini disiram dengan bumbu kacang dan paling enak di makan dengan sate kambing (yang juga dijual disana). Apalagi kalau minumnya pake es krim duren yang ada didepan warung. Hhmmmm syedap....
Nasi jamblang
Ibarat rotan, akar pun jadi, Ngga dapet nasi jamblang mang Doel, nasi jamblang bu Iis pun asyik lah. Lokasi nya dekat juga dengan Grage Mall. Tapi yang ini bukanya pas malam hari, karena kalau siang hari digunakan sebagai bengkel mobil. Nasi nya sederhana aja, tapi lauknya macem-macem, jadi semangat milihnya. Apalagi harganya sangat bersahabat. Untuk makan 2 orang dewasa n 3 anak cuma bayar 27 ribu. Top banget deh.
Hari ke dua
Setelah muter-muter nyobain makanan khas pada malam hari, paginya kami mencicipi kue serabi yang dijual tidak jauh dari mess. Tidak se-variatif di Bandung memang, tapi cukup menarik untuk dicoba. Ada serabi polos, serabi telur, serabi manis, serabi oncom, n yang paling heboh, serabi yang dikasih topping kacang kedele n cabe rawit, huah, pedesssss.

Setelah puas sarapan, jam 8 pagi siap-siap check out dari mess untuk mengunjungi dua keraton di Cirebon. Yang pertama dikunjungi adalah keraton Kacirebonan. Karena kami sampai disana jam 8 pagi, jadi kratonnya masih sepi. Daerah yang bisa dikunjungi wisatawan di Keraton kacirebonan ini tidak terlalu luas. Hanya sebuah pelataran, teras dan bangunan utama kraton. Tapi kondisi kraton ini bersih dan terawat. Berbeda dengan kraton Kasepuhan, yang kami kunjungi setelahnya. Kraton kasepuhan memang lebih luas dari kraton kacirebonan. Tapi halaman nya kurang terawat serta agak kotor. Tiket masuk keraton sekitar 4000 per orang. Kalau mau mengunjungi kraton kasepuhan, anda harus menyiapkan banyak uang seribuan, karena di setiap ruangan (ada 3 ruangan), pengunjung diminta mengisi kotak kebersihan. Walaupun tidak diwajibkan, namun dibeberapa ruangan, penjaganya meminta dengan agak memaksa. Belum lagi untuk membayar guide. Biaya parkir mobil juga lebih mahal dibandingkan tempat lain, 5000 rupiah. Well, pengalaman untuk kunjungan selanjutnya.
Ini pengalaman pertama kami sekeluarga pergi ke cirebon dan kuningan. Jadi untuk mencari tempat-tempat tujuan wisata harus bermodalkan papan petunjuk jalan dan petunjuk dari orang yang baik hati memberi tahu arah jalan.
Setelah wisata keraton, kami melanjutkan perjalanan ke arah Kuningan. Tujuan kali ini adalah Kolam Pemandian Cibulan, Pemandian Air Panas dan Kompleks Musium perjanjian Linggar Jati.
Tempat wisata yang berhasil ditemukan pertama kali berdasarkan petunjuk marka jalan adalah kolam air panas. Namun, karena kami sampai di sana sekitar jam 9 pagi, kunjungannya kami tunda dulu, nunggu cuaca lebih adem. Disana kami tanya arah jalan ke Linggarjati. Marka jalan ke Linggarjati kurang memadai. Jadi wajib tanya ke penduduk.

Museum Perjanjian Linggarjati
Walaupun sempat salah belok, akhirnya sampai juga ke museum Linggarjati. Wisata sejarah yang cukup penting buat anak-anak. Walaupun yang menarik bagi mereka adalah halamannya (yang luas, bersih dan indah). Disini pengunjung tidak dikenai karcis masuk, hanya diminta mengisi buku tamu dan menyumbang biaya kebersihan sukarela.
Kolam Pemandian Cibulan
Ini adalah tempat yang menakjubkan. Didalamnya terdapat dua kolam renang yang berisi ikan-ikan dalam ukuran besar, seukuran ikan-ikan sungai Amazon (yang ada di sea world). Sayangnya foto yang berhasil diambil tidak dapat menggambarkan ukuran yang sebenarnya.

Kolam Pemandian Air panas
Ternyata di sekitar kolam banyak penginapan yang ratenya berkisar mulai 80 ribu per kamar. Tapi,kalau musim liburan begini, sudah dapat dipastikan penuh! Tadinya mau nyoba nginep sehari lagi, di Kuningan. Tapi setelah menyusuri beberapa hotel yang penuh, akhirnya diputuskan untuk menyelesaikan kunjungan pada hari ini n langsung pulang ke Cikarang. Disini terdapat dua pintu masuk. Ada kolam pemandian umum (seperti kolam renang) dan ada kolam pemandian tertutup. Tiket masuknya sekitar 7000an per orang untuk kolam umum.
Kami memilih kolam pemandian umum, karena lebih luas sehingga anak-anak lebih nyaman bermain disana. Di dalam kolam pemandian umum ada beberapa kolam. Kolam air panas dan air dingin (dengan suhu air biasa). Ada juga perosotan naga (apa sih bahasa Indonesia yang bakunya? seluncur gitu?). Tapi kayanya kurang nyaman dipakai, karena dibuat dari adukan semen yang dihaluskan, bukan dari plastik fiber seperti di kolam renang pada umumnya.

Aaaah, hari yang melelahkan. Sangat menyenangkan buat anak-anak. Dalam satu hari mereka berenang dua kali! Akhirnya kami pulang ke Cikarang. Melewati jalan tol Palimanan yang sedang dalam perbaikan, ditambah ada kontainer mogok di jalan. Muacet deh. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 4 jam, jadi agak molor setengah jam.
Langganan:
Postingan (Atom)